La vie de chat sur les plus pauvres du monde
Tuesday, December 11th, 2007Jumat, aku berangkat agak siang karena harus mampir ke kantornya Toto dulu di seberang jalan. Dan saat itulah aku ketemu lagi sama kucing kasian itu.
Kucing yang menyia-nyiakan susu cap Beruang…!!
Setelah malam-malam sebelumnya hujan deras dan badai gila-gilaan, entah kenapa, kayanya kucing itu menderita luka di kepala, mukanya bengkak dan badannya semakin kotor. Masih kurus dan tersengal-sengal. Berjalan pelan-pelan…
Konsentrasiku langsung buyar…
Untungnya, tukang sayur yang dia tongkrongin di situ orangnya baek. Dia ngga ngusir dengan kasar meskipun itu kucing udah dalam kondisi ngga enak dilihat.
Kalo di Jepang patung kucing sedang mengangkat tangan = penglaris, kucing ini completely the opposite oh that. Duh.
Tatapanku langsung tertuju pada ikan teri sachetan seharga seribu rupiah, kemasan ekonomis dan dalam kuantitas ngga terlalu banyak. Berdasarkan pengalaman terdahuluku, daku menjustifikasi bahwa pengeluaran tersebut akan tetap dianggap rasional meskipun pada akhirnya kucing itu ngga doyan dan cuek…
Justifikasi yang lain adalah, 
"kalo teri aja ga mau mau makan apa lu?"
He ate that gracefully. I left him after ngobrol sama tukang sayurnya. Ternyata tukang sayur tersebut adalah salah satu dari sekian orang yang mungkin berjasa menopang hidup kucing setengah cacat itu.
Dia udah susah nggigit.
Sama sekali tidak gesit.
Bernafas aja susah.
Gimana bisa berburu?
Donasi tukang sayur berupa ikan sisa atau ikan yang dipaksa dianggap sebagai sisa rupanya sedikit banyak turut memperpanjang usianya.
Itulah terakhir kulihat dia sepanjang weekend.
Dan habis itu aku baru sadar kalo Atrium Mulya itu jauh dari situ… Dan akhirnya aku nemu juga gedung tempat Bayu kerja…
Pagi ini aku lihat kucing itu. Aku emang nyari dia sih. Dia emang tinggal di pinggir jalan sepanjang gang Karet Belakang situ, hanya dalam radius sekitar 6 rumah. Kali ini, ngga ada satupun tukang sayur ato belanjaan yang terlihat. Or at least tukang jualan apaan gitu kek! Sheesh. Kucing itu mengeong penuh harap dan aku cuma bisa jalan terus ke kantor. Ough.
Aku sempet mikir ke Plasa Festival, cari apaan gitu. Whiskas jelly? Yang jelas whiskas kering bakal membuat dia kesusahan ngunyah. Semua buyar karena aku lupa… Tahu-tahu udah sore banget dan aku udah nyebrang through jembatan Bus Wae… Yea, the heck. I proceeded walking and kept thinking what I should buy. Perhaps in the way home I could drop by food stall. Or anything.
First thing caught my eyes was, rempeyek teri. Might be good idea…, grabbed it.
Then I found something better, fried fish. Grabbed it successfully, 1500 Rupiah.
Dan bener aja, aku berhasil nemuin dia lagi nongkrong di kolong mobil, lagi tidur-tiduran sama kucing lain. Bummer. Kucing lain itu adalah potensi besar buat ngrusuhi jatah ikan…
I gave the fish, she seemeed to like it.
Well, batuk-batuk dikit.
Cukup cerdas juga buat ninggalin tulang dan bagian kepala?
Aku tetep khawatir dia choke dan muntah, bakal sia-sia dong…
Trus, buat mengalihkan perhatian kucing satu aku coba kasih rempeyek terinya…
Tapi ternyata dia tahu kalo ikan itu lebih enak…
Walhasil aku nongkrong di pinggir jalan sambil nungu kucing itu selesai makan.
geez.
Mau sampe kapan begini?
Atau baiknya aku bawa dia ke shelter kucing itu ya?
Aku sempet mikir juga… Perlu ngga ya aku cari temen buat share biaya masukinnya ke situ…
Well, aku ga tau. Walau cuma dibayar sekali, nominalnya cukup besar.
Ada sih, cuma, seandainya kontrakku masih panjang aja mungkin aku berani masukin sendiri,
orang mudik aja aku pikir-pikir?
Ya, mudik emang kena Leave without paid juga si yang bikin keki…
Terus aku juga ngga punya keranjang buat bawa dia…
Bla bla bla…
Semoga dia dapet hidup yang layak dan damai sepanjang sisa hidupnya…